10
menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Ajarin
gue integral dong!”
“Logaritma
gimana???”
“Duh
Akuntansi.. kok gue nggak ngerti juga siih…”
Kepanikan
melanda seluruh siswa kelas XII SMA Wijaya. Hari ini merupakan puncak seluruh
ujian semester karena mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika bagi anak
IPA dan Akuntansi bagi anak IPS. Kedua mata pelajaran itu selalu diangap
menakutkan dan sanggup membuat para siswa menangis ‘terharu’ melihat soal yang
harus mereka selesaikan.
Demi
kesejahteraan bersama, kedua kubu IPA dan IPS sudah mengatur strategi untuk menjalankan
sistem ‘server’. Artinya, satu orang yang dipercaya akan mengerjakan soal
sebaik-baiknya, lalu jawabannya akan dibagikan ke teman-teman yang lain. Sambil
menunggu sang ‘server’ bekerja, siswa lain tetap menyelesaikan soal sesuai
kemampuan sendiri.
Rengga,
si jenius Matematika, disepakati menjadi ‘server’ utama bagi anak-anak IPA. Sedangkan
anak IPS mempercayakan Aria untuk menjadi ‘server’ mereka pada ujian hari ini.
TEEE…TTT!!!
Bel
masuk yang tidak diharapkan akhirnya berbunyi. Teriakan kepanikan terdengar di
seluruh lantai satu dan dua gedung sekolah yang menjadi tempat ujian siswa
kelas XII.
“Rengga,
inget ya, 30 menit terakhir,” seru Aldhie sebelum masuk ke kelasnya.
“Sip!”
Rengga mengacungkan jempol kanannya dengan mantap sambil tersenyum.
08.10, ruang S - 11
Onny
menatap soal Akuntansi di hadapannya. Buset
dah, apaan nih? batinnya. Ia membuka halaman kedua lembar soalnya. Nihil. Otaknya
tetap blank, belum ada satu soal pun
yang berhasil ia kerjakan. Keningnya berkerut.
Onny
mengalihkan pandangan. Teman-temannya terlihat asyik berkutat dengan kertas
corat-coret, sibuk menghitung, mencari jawaban untuk memecahkan soal. Keringat
dingin mulai mengucur di dahi cowok yang dikenal lugu oleh teman-temannya itu.
Onny
pasrah. Ia hanya bisa berdoa semoga Aria segera menjalankan strategi yang telah
mereka sepakati tadi.
09.31, ruang A – 07
“Maaf
Pak, saya mau ijin ke belakang,” ucap Rengga memecah kesunyian. Beberapa anak
yang sudah menangkap maksudnya hanya mengulum senyum. Sebagian lagi tetap berkonsentrasi
pada soalnya.
“Oh,
silakan,” jawab Pak Thomas.
“Good luck! Demi angkatan kita,” bisik
Wisnu saat Rengga berjalan melewati mejanya. Rengga tersenyum.
09. 40, toilet pria, lantai 1
“Mana
sih jawaban dari Rengga?” Bayu memerhatikan setiap detail bagian kamar mandi
itu. Sesuai kesepakatan awal, pada waktktu 30 menit terakhir Rengga akan meletakkan
kertas berisi jawaban Matematika di bagian bawah tempat sampah kamar mandi. Masih
sibuk melihat-lihat, seseorang masuk.
“Eh
ada elo, Bay! Lagi ngapain?” tanya Aldhie.
“Sama
kayak elo laah…,” jawab Bayu enteng.
“Terus,
udah ketemu kertasnya?”
“Nah
itu dia Al! Udah 10 menit gue nyari, belum nemu juga. Takut keburu habis
waktunya.”
“Di
bawah tempat sampah?”
“Nggak
ada!”
“Serius?!
Kan perjanjiannya ditaro di situ. Masa nggak ada? Apa kebuang orang ya?”
Bayu
dan Aldhie menatap tempat sampah dengan sangsi. Satu pikiran aneh terlintas di
benak mereka. Sedetik kemudian, keduanya menetapkan keputusan.
“DEMI
MATEMATIKA!!!”
Menahan
jijik dan bau, Bayu dan Aldhie rela mengubek isi tempat sampah.
“Ada
nggak?”
“Nggak
ada!”
“Coba
aduk lagi, kali aja keselip…”
“Nggak
ada, dodol!”
“Gimana
nih?”
“Balik
aja ke kelas deh!”
Bayu
dan Aldhie akhirnya kembali ke kelas masing-masing dengan wajah lesu.
09.45, ruang S - 11
Onny
menatap lembar jawabannya yang sudah terisi penuh dengan bangga. Strategi
‘server’ ternyata berjalan lancar. Untuk menjawab bagian esai, ia berusaha
sekuatnya mengingat materi-materi yang pernah disampaikan Bu Rina selama satu
semester lalu.
Pluk!
Sebuah
kertas kecil mendarat di mejanya.
Yakin lo, itu semua jawabannya?
Onny
menoleh pelan, mencari tau si pengirim. Ternyata dari Prama yang duduk di arah
jam dua dari kursinya.
Yakin! Orang gue nemu kertas itu di
kamar mandi, tulis Onny. Saat guru pengawas lengah,
dilemparnya kertas balasan itu.
Prama
masih belum yakin sepenuhnya. Tapi, ia pun tetap menyalin beberapa jawaban dari
‘kertas kunci; itu. Daripada nggak diisi,
pikirnya.
10.00
TEEE..TT!!
TEE..TT!! TEEEE….TTTT!!!
Bel
panjang menandakan waktu ujian telah selesai. Seperti ketika bel masuk
berbunyi, teriakan kepanikan kembali membuat suasana menjadi gaduh. Beberapa
siswa nekat melihat lembar jawab milik temannya walau guru pengawas masih
berada dalam ruangan.
“Gila!
Soal apaan tuh!” umpat Cakra kesal setelah meninggalkan ruangan.
“Rugi
nih gue hafalin rumus! Soal yang keluar udah kayak SNMPTN!” timpal Dino.
“Rengga,
kertasnya kok nggak ada sih? Gue udah cari di kamar mandi nggak nemu, di tempat
sampah juga nggak ada,” Aldhie malas membayangkan ‘perjuangan’nya ngubek-ngubek
tempat sampah toilet pria tadi.
“Udah
gue taro di bawah tempat sampah deket wastafel itu kok! Pas 30 menit terakhir,”
jawab Rengga. “Elo liat gue keluar kelas kan tadi?” ia menoleh pada Wisnu yang
langsung dijawab dengan anggukan.
“Ancur
deh nilai Math gue! Argh!!” Bayu kesal.
Di
pihak lain, anak IPS tampak tenang karena berhasil melewati ujian Akuntansi
dengan baik. Sistem ‘server’ yang direncanakan juga berjalan lancar tanpa
hambatan.
“Elo
gimana Ya? Strategi kalian berhasil?” tanya Rengga pada Aria.
“Lancar
dong!” potong Onny, menjawab dengan bangga.
“Lancar
apaan!” balas Aria ketus. “Gue aja tadi jawabnya banyak yang asal!”
Onny
menatap Aria heran.
“Maksudnya?”
“Gue
nggak sempet naro jawaban di kamar mandi, Oon!”
“APA?!!!”
“On,
jangan-jangan elo salah ngambil kertas lagi?” tuding Aldhie.
“Kertas…
yang di kertas buram itu?” tanya Onny.
“Iye,
yang ada gambar Pak Tedy di baliknya,” kata Rengga.
“Itu…sih…
gue yang ambil…,” seketika perut Onny terasa mulas.
Semua
anak yang mendengarkan percakapan itu, baik IPA maupun IPS, menghentikan
kegiatannya sejenak. Mereka menatap Onny dengan kesal sekaligus menahan tawa.
Jawaban soal Matematika digunakan untuk menjawab soal Akuntansi? Apa kata guru
mereka nanti?
Dan
sebelum menjadi korban amukan satu angkatan, Onny buru-buru menyalakan motornya
dan meninggalkan sekolah.
No comments:
Post a Comment