Saturday, 30 March 2013

Server


10 menit sebelum bel masuk berbunyi.

“Ajarin gue integral dong!”
“Logaritma gimana???”
“Duh Akuntansi.. kok gue nggak ngerti juga siih…”
Kepanikan melanda seluruh siswa kelas XII SMA Wijaya. Hari ini merupakan puncak seluruh ujian semester karena mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika bagi anak IPA dan Akuntansi bagi anak IPS. Kedua mata pelajaran itu selalu diangap menakutkan dan sanggup membuat para siswa menangis ‘terharu’ melihat soal yang harus mereka selesaikan.
Demi kesejahteraan bersama, kedua kubu IPA dan IPS sudah mengatur strategi untuk menjalankan sistem ‘server’. Artinya, satu orang yang dipercaya akan mengerjakan soal sebaik-baiknya, lalu jawabannya akan dibagikan ke teman-teman yang lain. Sambil menunggu sang ‘server’ bekerja, siswa lain tetap menyelesaikan soal sesuai kemampuan sendiri.
Rengga, si jenius Matematika, disepakati menjadi ‘server’ utama bagi anak-anak IPA. Sedangkan anak IPS mempercayakan Aria untuk menjadi ‘server’ mereka pada ujian hari ini.
TEEE…TTT!!!
Bel masuk yang tidak diharapkan akhirnya berbunyi. Teriakan kepanikan terdengar di seluruh lantai satu dan dua gedung sekolah yang menjadi tempat ujian siswa kelas XII.
“Rengga, inget ya, 30 menit terakhir,” seru Aldhie sebelum masuk ke kelasnya.
“Sip!” Rengga mengacungkan jempol kanannya dengan mantap sambil tersenyum.



08.10, ruang S - 11
Onny menatap soal Akuntansi di hadapannya. Buset dah, apaan nih? batinnya. Ia membuka halaman kedua lembar soalnya. Nihil. Otaknya tetap blank, belum ada satu soal pun yang berhasil ia kerjakan. Keningnya berkerut.
Onny mengalihkan pandangan. Teman-temannya terlihat asyik berkutat dengan kertas corat-coret, sibuk menghitung, mencari jawaban untuk memecahkan soal. Keringat dingin mulai mengucur di dahi cowok yang dikenal lugu oleh teman-temannya itu.
Onny pasrah. Ia hanya bisa berdoa semoga Aria segera menjalankan strategi yang telah mereka sepakati tadi.



09.31, ruang A – 07
“Maaf Pak, saya mau ijin ke belakang,” ucap Rengga memecah kesunyian. Beberapa anak yang sudah menangkap maksudnya hanya mengulum senyum. Sebagian lagi tetap berkonsentrasi pada soalnya.
“Oh, silakan,” jawab Pak Thomas.
Good luck! Demi angkatan kita,” bisik Wisnu saat Rengga berjalan melewati mejanya. Rengga tersenyum.



09. 40, toilet pria, lantai 1

“Mana sih jawaban dari Rengga?” Bayu memerhatikan setiap detail bagian kamar mandi itu. Sesuai kesepakatan awal, pada waktktu 30 menit terakhir Rengga akan meletakkan kertas berisi jawaban Matematika di bagian bawah tempat sampah kamar mandi. Masih sibuk melihat-lihat, seseorang masuk.
“Eh ada elo, Bay! Lagi ngapain?” tanya Aldhie.
“Sama kayak elo laah…,” jawab Bayu enteng.
“Terus, udah ketemu kertasnya?”
“Nah itu dia Al! Udah 10 menit gue nyari, belum nemu juga. Takut keburu habis waktunya.”
“Di bawah tempat sampah?”
“Nggak ada!”
“Serius?! Kan perjanjiannya ditaro di situ. Masa nggak ada? Apa kebuang orang ya?”
Bayu dan Aldhie menatap tempat sampah dengan sangsi. Satu pikiran aneh terlintas di benak mereka. Sedetik kemudian, keduanya menetapkan keputusan.
“DEMI MATEMATIKA!!!”
Menahan jijik dan bau, Bayu dan Aldhie rela mengubek isi tempat sampah.
“Ada nggak?”
“Nggak ada!”
“Coba aduk lagi, kali aja keselip…”
“Nggak ada, dodol!”
“Gimana nih?”
“Balik aja ke kelas deh!”
Bayu dan Aldhie akhirnya kembali ke kelas masing-masing dengan wajah lesu.



09.45, ruang S - 11

Onny menatap lembar jawabannya yang sudah terisi penuh dengan bangga. Strategi ‘server’ ternyata berjalan lancar. Untuk menjawab bagian esai, ia berusaha sekuatnya mengingat materi-materi yang pernah disampaikan Bu Rina selama satu semester lalu.
Pluk!
Sebuah kertas kecil mendarat di mejanya.
Yakin lo, itu semua jawabannya?
Onny menoleh pelan, mencari tau si pengirim. Ternyata dari Prama yang duduk di arah jam dua dari kursinya.
Yakin! Orang gue nemu kertas itu di kamar mandi, tulis Onny. Saat guru pengawas lengah, dilemparnya kertas balasan itu.
Prama masih belum yakin sepenuhnya. Tapi, ia pun tetap menyalin beberapa jawaban dari ‘kertas kunci; itu. Daripada nggak diisi, pikirnya.



10.00

TEEE..TT!! TEE..TT!! TEEEE….TTTT!!!
Bel panjang menandakan waktu ujian telah selesai. Seperti ketika bel masuk berbunyi, teriakan kepanikan kembali membuat suasana menjadi gaduh. Beberapa siswa nekat melihat lembar jawab milik temannya walau guru pengawas masih berada dalam ruangan.
“Gila! Soal apaan tuh!” umpat Cakra kesal setelah meninggalkan ruangan.
“Rugi nih gue hafalin rumus! Soal yang keluar udah kayak SNMPTN!” timpal Dino.
“Rengga, kertasnya kok nggak ada sih? Gue udah cari di kamar mandi nggak nemu, di tempat sampah juga nggak ada,” Aldhie malas membayangkan ‘perjuangan’nya ngubek-ngubek tempat sampah toilet pria tadi.
“Udah gue taro di bawah tempat sampah deket wastafel itu kok! Pas 30 menit terakhir,” jawab Rengga. “Elo liat gue keluar kelas kan tadi?” ia menoleh pada Wisnu yang langsung dijawab dengan anggukan.
“Ancur deh nilai Math gue! Argh!!” Bayu kesal.
Di pihak lain, anak IPS tampak tenang karena berhasil melewati ujian Akuntansi dengan baik. Sistem ‘server’ yang direncanakan juga berjalan lancar tanpa hambatan.
“Elo gimana Ya? Strategi kalian berhasil?” tanya Rengga pada Aria.
“Lancar dong!” potong Onny, menjawab dengan bangga.
“Lancar apaan!” balas Aria ketus. “Gue aja tadi jawabnya banyak yang asal!”
Onny menatap Aria heran.
“Maksudnya?”
“Gue nggak sempet naro jawaban di kamar mandi, Oon!”
“APA?!!!”
“On, jangan-jangan elo salah ngambil kertas lagi?” tuding Aldhie.
“Kertas… yang di kertas buram itu?” tanya Onny.
“Iye, yang ada gambar Pak Tedy di baliknya,” kata Rengga.
“Itu…sih… gue yang ambil…,” seketika perut Onny terasa mulas.
Semua anak yang mendengarkan percakapan itu, baik IPA maupun IPS, menghentikan kegiatannya sejenak. Mereka menatap Onny dengan kesal sekaligus menahan tawa. Jawaban soal Matematika digunakan untuk menjawab soal Akuntansi? Apa kata guru mereka nanti?
Dan sebelum menjadi korban amukan satu angkatan, Onny buru-buru menyalakan motornya dan meninggalkan sekolah.

No comments:

Post a Comment