"NGGAK DATENG?" seru Syadza setelah memberikan ucapan selamat kepada Andrea.
"Iya," jawab wisudawati itu pelan.
"Kok dia minta di... Argh nyebelin banget sih!"
Andrea hanya tersenyum kecil. Syadza bukan orang pertama yang menanyakan keberadaan Angga di hari berbahagianya itu. Salah satu temannya sempat menghibur, mungkin sang workaholic itu sengaja ingin memberi kejutan bagi Andrea dengan tiba-tiba hadir tanpa pemberitahuan. Namun sampai area wisuda hampir selesai, bayangannya bahkan tidak juga terlihat.
"Ya elo tau kan... kalo dia minta cuti sehari, bisa bangkrut kali perusahaannya..."
"Duh An...," Syadza tidak tahu lagi harus merespon seperti apa. Ini kesekian kalinya ia melihat sang sahabat diperlakukan tidak 'adil'. Kesekian kalinya pula kesabaran Andrea kembali diuji oleh orang yang sama.
"Yaelah dia doang. Gue nggak papa kok.. Kan di sini ada orang tua, ada elo, temen-temen yang lain, tetep rame!"
Sejak tadi malam, Andrea bertekad untuk tetap tersenyum sepanjang hari bahagianya, apapun yang terjadi. Tangisnya hanya sedikit keluar setelah turun dari panggung menerima ijazah sarjananya.
"Tapi dia udah ngucapin? Nelepon?"
"Orang kayak dia, lebih peduli sama perekonomian negara daripada 'cuma selebrasi' kayak gini." Genggaman Andrea pada bunga-bunga hadiah dari beberapa sahabatnya mengeras.
"Kali ini, gue udah beneran nggak peduli lagi sama dia. Terserah deh dia mau melototin kurs dollar kek, ngajak gue main kek, lembur sampe lewat tengah malem kek, terserah. Gue punya hidup sendiri, dan harus punya masa depan yang cerah, dengan atau tanpa orang itu," tegas Andrea masih sambil tersenyum.
Syadza hanya bisa menghela nafas panjang. Andai ia bisa mencapai lokasi kerja Angga dalam sekejap, mungkin sudah ditariknya pemuda itu dari kursi kerja untuk datang sejenak ke kampusnya.
"Tenang, gue baik-baik aja kok kali ini. Thank you ya elo selalu mau dengerin curhatan gue. Udah sarjana harus lebih banyak bahagia!"
Andrea mengajak Syadza berkumpul dengan teman-teman mereka. Terik matahari pun tak sanggup mengurangi keceriaan siang itu.
'When the daylight comes, I'll have to go. Bye, Ngga..'
No comments:
Post a Comment