Sunday, 5 May 2013

Use Somebody #2

"Mau makan enak lagi nggak?"

"Gratis lagi?"

Fajar tertawa. "Tetep ye. Iya gratis! Mau?"

Andrea berpikir sejenak. Sebagian hatinya masih berharap Angga akan menemuinya berhubung cowok itu sedang pulang. Sebagian lainnya menolak melakukan kebodohan yang dulu pernah dilakukan Andrea.

"Boleh deh. Kapan di mana?"

"Sekarang. Temenin gue kondangan," balas Fajar singkat.

"HAH? Sekarang banget?! Aduh...."

"Kenapa? Nggak bisa?"

"Bisa sih... tapi kok mendadak banget?" Meski sudah sering mendapat tugas liputan dadakan, Andrea masih kurang suka mendatangi acara-acara secara mendadak dengan persiapan yang minim. "Ngg...kenapa nggak ajak temen lo yang lain?"

"Susah jelasinnya. Udah, elo mau nggak? Gue udah di tol, kalo mau nanti gue jemput elo dulu."

"Oke deh," kata Andrea akhirnya. Tanpa membuang waktu ia segera berganti pakaian dan menyiapkan diri.


Setelah menembus kemacetan khas akhir pekan, keduanya akhirnya tiba di gedung resepsi. Sang mempelai pria adalah sahabat Fajar semasa SMA. Sejak di mobil, Andrea sudah mengingatkan untuk diperkenalkan sebagai 'teman kantor' jika ada yang bertanya kepada Fajar. Bukan apa-apa, ia masih merasa canggung sejak kejadian di cafe beberapa waktu lalu.

"Istrinya ini seumuran sama elo. Kali aja kenal makanya gue ajak elo," jelas Fajar ketika mereka berjalan mendekati pelaminan.

"Apa hubungannya? Gue kan nggak segaul itu," kata Andrea sambil tertawa kecil. Fajar memilih diam.

Mereka datang ketika tamu belum terlalu ramai. Setelah memberi selamat kepada kedua mempelai (dan Fajar dibisiki 'segera menyusul'), Fajar dan Andrea langsung menuju buffet.

"Nah, seneng kan lo," ledek Fajar begitu Andrea mengambil seporsi baso tahu, makanan favoritnya.

Andrea nyengir. "Hehe, thanks ya udah ngajak!"

"Santai...," kata Fajar. "Eh gue ke sana dulu ya. Ntar ketemuan lagi aja di sini oke?"

Andrea mengangguk. Diperhatikannya Fajar yang berjalan menuju stall Zupa. Kenapa gue masih biasa aja ya?

Berada di resepsi pernikahan sering membuat Andrea berkhayal. Ia senang memikirkan konsep pernikahannya kelak. Baju, para tamu yang diundang, hiburan,... termasuk siapa yang akan mendampinginya kelak. Untuk hal yang terakhir, ia hampir bisa menjawabnya dengan pasti. Sebelum Angga berubah sikap secara drastis.

"Fajar lama banget...," gumamnya. Hidangan yang disantapnya hampir habis dan Andrea berencana mencicipi hidangan lain. Masih berdiri di tempatnya, Andrea memandang ke sekeliling, membaca menu-menu yang tersedia. Sampai matanya tertuju pada sosok yang juga mematung di tengah keramaian dengan sepiring buah di tangannya.

Sosok itu berjalan mendekat. Andrea memilih berpura-pura tidak melihatnya.

"Andrea?" sapa suara itu.

"Halo, Angga," balas Andrea singkat.

"Diundang ke sini juga? Yaampun... tau gitu kita berangkat bareng!" Angga tertawa kecil.

"Nggak, aku diajak temen kok. Katanya mempelai perempuannya seumuran sama aku jadi barangkali aja kenal," jawab Andrea sambil tersenyum.

"Ooh kirain...Iya dia temen sekelas aku di SMA. Ini udah kayak reunian jadinya."

"Ooh makanya kamu nggak ngajak aku? Nggak bilang lagi pulang?" Kini Andrea memasang muka datar. Ditanya seperti itu, Angga mendadak gelagapan.

"Bukan gitu, soalnya aku pikir kamu bakal bosen gara-gara aku cuekin kalau diajak..."

Sotoy! batin Andrea ketus. "Yah, mungkin sebaiknya jangan kebanyakan mikir Ngga."

Fajar menghentikan langkahnya sejenak. Diperhatikannya Andrea yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Melihat raut muka Andrea tidak terlalu senang, Fajar akhirnya mendekat.

"An, sori lama! Macet tadi antriannya," seru Fajar mencoba bercanda.

"Ngga papa," kata Andrea. "Oh iya, kenalin, ini Angga. Angga, ini Fajar, editorku. Fajar, ini Angga..." Fajar menunggu Andrea menyelesaikan kalimatnya. Tapi perempuan itu sepertinya tidak berniat menjelaskan 'siapa' Angga.

"Halo, gue Fajar."

"Angga." Keduanya berjabat tangan.

Seketika suasananya merasa canggung. Andrea masih ingin mendengarkan penjelasan Angga, tapi ia juga tidak enak pada Fajar yang mengajaknya ke acara itu.

"Hmm pulang aja yuk. Atau elo masih pengen ketemu temen-temen?" tanya Andrea pada Fajar. Dengan cepat ia membaca situasi dan mengiyakan ajakan Andrea.

"Nggak kok, udah ketemu tadi beberapa orang. Yaudah yuk gue anterin."

Tanpa menunggu lama, Andrea langsung membalikkan badan. "Duluan ya Ngga."

"Iya," balas Angga pelan. Ia masih berdiri di tempatnya sampai Andrea menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba dadanya merasa sesak. Acara itu tidak menarik lagi baginya. Sayang ia masih harus berada di sana sampai acara selesai untuk melakukan foto bersama teman-teman sekelasnya dulu.

Kenapa sih gue? Harusnya biasa aja kan? Bagus dong kalau Andrea bisa nemu yang lebih baik dari gue. Ah tapi...

"Angga! Dicariin dari tadi. Anak-anak udah mau foto tuh. Yuk!" seru sahabatnya dari belakang. Bagaikan robot, Angga berjalan mengikutinya.










No comments:

Post a Comment