"Minum dulu, Kak. Lebih suka kopi atau teh?" Dona menyodorkan kopi kaleng dan teh botol pada Andrea.
"Teh aja, makasih," jawab Andrea sambil mengambil teh botol dari tangan adik Angga ini.
Sudah dua hari Angga dirawat di RS. Bhinekas. Masih koma, sehingga Andrea belum mau meninggalkannya. Padahal saat ini keluarga Angga sudah datang menemani putra sulung mereka. Di dalam ruangan, sang Ibu tak henti melantunkan ayat suci. Andrea memilih menenangkan diri sejenak di ruang tunggu.
"Kak.. makasih ya udah nemenin Aa selama di rumah sakit. Kalau Kakak mau istirahat, pulang aja dulu," ucap Dona.
"Nggak, nggak papa kok Don, aku di sini dulu aja nunggu Aa sadar." Kadang, Andrea latah memanggil Angga dengan sebutan "Aa", nama panggilan di keluarganya. Keduanya terdiam. Ada hening sesaat di antara mereka.
"Ngg...Kak.."
"Btw Don..."
Keduanya bertatapan dan tertawa kecil.
"Kakak dulu deh!" Dona nyengir.
"Sok aja kamu dulu, santai..," kata Andrea.
"Ngg.. Kak Andrea udah berapa lama.. jadian sama Aa?"
Ditanya seperti itu, Andrea malah ingin tertawa. Seingatnya, Angga tidak pernah mengikrarkan mereka 'pacaran'. "Kita nggak pernah pacaran, Don...," akunya. Dona menggeser duduknya persis di sebelah Andrea untuk menyimak lebih lanjut. Sekalian gue ceritain deh!
"Kamu udah tau gimana aku bisa kenal dan deket sama Aa?" Andrea mengecilkan suara, tidak ingin ada orang lain yang mendengar obrolan mereka. Dona mengangguk kecil.
"Nah, sejak saat itu, kita jadi deket. Alamiah aja. Jadi sering komunikasi, BBMan, ngobrolin apapun, sesekali jalan bareng...," Andrea mengadahkan kepalanya, menahan sesuatu yang hampir jatuh dari ujung mata.
"Terus, kenapa nggak pacaran?" tanya Dona polos. Ia heran, abangnya bisa ya sedekat ini sama seorang perempuan? Tapi katanya, dibilang sahabat juga bukan...
"Nggak tau," jawab Andrea sambil tertawa. Gue juga nggak ngerti sama jalan pikiran Abang elo untuk urusan satu ini! "Mungkin karena kalau pacaran, terlalu banyak aturan ya? Ribet. Aku sama Angga lebih suka yang simpel aja makanya kita jalanin dulu..."
"Ooh...," Dona mengangguk lagi. Dari raut mukanya, terlihat ia masih menyimpan rasa penasaran tentang hubungan sang kakak dengan perempuan di hadapannya ini.
"Emang, Aa udah berapa kali pacaran Don?" tembak Andrea. Terbiasa mewawancara orang untuk membuat berita membuat Andrea lebih suka melemparkan pertanyaan yang to the point daripada bertele-tele.
"Hmm.. dua kalo nggak salah. Atau tiga ya? Lupa Kak," jawab Dona. "Yang jelas, kalau Aa lagi deket sama seseorang, aku pasti follow Twitternya orang itu," akunya sambil nyengir.
"Hahaha dasar!"
"..Tapi, baru Kak Andrea yang dikenalin langsung ke Ayah-Ibu. Biasanya selama ini Aa cuma 'ngenalin' pacarnya kalau kegeb lagi asik BBM-an.."
"Oh ya?" Boleh ge-er nggak?
"Iya. Padahal Aa kan suka sewot kalo ditanya tentang masalah pribadinya gini."
"Hmm tapi kan waktu itu juga nggak sengaja dikenalinnya...Mana aku grogi banget lagi!" Andrea menutup muka.
"Hahaha iya keliatan Kak! Sampe numpahin Thai Tea-nya gitu," kenang Dona geli.
"Aku parah banget ya waktu itu?" Saat itu, Andrea dan Angga memang sedang jalan berdua, Angga menemaninya mencari buku untuk tugas kuliah minggu depan. Tak disangka, di toko buku mereka malah bertemu Ayah dan Ibu Angga yang sedang menemani Dona mencari bahan untuk tugas prakaryanya. Sang Ayah menawari Andrea makan malam bersama di kafe samping toko. Andrea sempat ragu karena mereka baru kenal. Namun, Angga berhasil meyakinkannya untuk menerima ajakan itu. Apalagi setelah itu, perutnya sempat berbunyi minta diisi, yang langsung mendapat ledekan dari Angga.
"Nggak juga kok Kak," jawab Dona masih cekikikan. "Tapi setelah kejadian itu, Ayah-Ibu jadi suka sama Kakak."
"Suka?" Belah mananya yang bisa bikin 'suka'?
"Iya. Kata Ibu, Kakak orangnya ramah. Terus, nggak jaim, tapi tetep sopan." Jantung Andrea berdegup cepat. "Kalau kata Ayah, Kak Andrea keliatannya orang yang sederhana, nggak neko-neko."
Kini Andrea blushing.
"Ya ampun, makasih...."
"Nanti aku sampein ucapannya ke Ayah-Ibu ya," kata Dona kembali terkikik. Ia mulai berpendapat, perempuan di depannya ini adalah teman yang asyik diajak ngobrol. Tidak merasa sok dewasa, seperti beberapa teman Angga yang dikenalnya.
"Tapi Don..hmm..," Andrea sempat berpikir sebelum melanjutkan ucapannya. "Aa lagi sibuk banget ya belakangan ini?" Sampai kayaknya bahkan nggak mau ketemu gue...
"Kayaknya iya Kak. Kalau Ibu nelepon malem, seringnya Aa masih di kantor. Ibu nelepon jam delapanan loh padahal," Dona menghela nafas. Sejujurnya, ia kasihan melihat abangnya sering lembur dan seperti kekurangan waktu untuk bersantai sejenak.
"Aa juga jadi jarang pulang. Sekalinya di rumah, molor terus," lanjut Dona. "Eh maksudnya, sering di kamar. Biasanya kan duduk di ruang tv, nyemilin masakan Ibu, atau bantuin Ayah ngutak-atik mobil."
"Hmm..." Sabar An. Curhatnya ntar aja sama Syadza dan Yuri.
"Kadang Ayah godain sih, kok nggak pernah main ke rumah Kak Andrea lagi. Tapi Aa cuma jawab gitu doang.."
"Gitu doang gimana?"
"Ya capeklah, ngantuklah...," Kali ini Dona sedikit takut Andrea berubah sikap. Namun setelah beberapa saat, raut muka perempuan itu masih tetap sama.
"Iya sih, kebayang...," jawab Andrea akhirnya.
"Kakak... nggak papa?" tanya Dona hati-hati melihat Andrea yang tiba-tiba menundukkan muka.
"Aku? Kenapa? Nggak papa kok," Andrea mencoba tersenyum.
"Nggak papa... digituin sama Aa? Mm ngerti kan..."
'Apa-apa' sih kadang Don...
"Iya," Andrea menatap Dona. "Beneran nggak papa kok Don. Lagian kan aku juga bukan siapa-siapanya..." Sebelum Andrea menyelesaikan kalimatnya, Dona tiba-tiba memeluknya dari samping.
"Nggak tau kenapa, aku suka sama Kak Andrea. Kak Andrea orangnya baik, aku jadi ngerasa punya kakak perempuan. Kalo Aa pernah bersikap nyebelin ke Kakak, tolong dimaafin ya Kak..."
"Eh, itu...," Andrea sedikit bingung merespon pernyataan polos anak itu. Dona melepaskan pelukannya. Raut mukanya terlihat sedih.
"Aku juga seneng kok bisa kenal sama Dona, sama Ayah-Ibu. Rasanya kayak punya keluarga baru," aku Andrea akhirnya. "Nggak usah khawatirin hubungan Aa sama Kakak yaa..." But thank you for caring, Dear..
"Aku bakal bantuin Kak Andrea supaya nggak dicuekin Aa lagi!" celetuk Dona mantap.
"Hah? Nggak usaaaaah," jawab Andrea cepat. Yang ada gue malah diamuk Angga nanti!
"Nggak papa Kak, aku ikhlas kok.."
"Bukan masalah itunya... Duh gimana ya ngomongnya...."
"Terus kenapa dong?"
"Hmm gini ya Don.. Yang namanya perasaan itu, kadang nggak bisa dipaksain. Kalau dipaksain, bisa-bisa nanti akhirnya malah nggak enak, pait. Sekarang, Kakak mau jalanin apa adanya aja sama Aa. Nggak akan maksa-maksa supaya dia lebih perhatian lagi sama aku atau gimana. Kalau memang jodoh, pasti bisa dideketin sama Tuhan kok hehehe," jelas Andrea. "Tapi, Dona boleh banget kalau mau bantu dengan doa! Gimana?"
Dona tampak berpikir sesaat. Sebenarnya ia juga bingung dengan bantuan yang akan ditawarkan. Jadi, mendoakan sepertinya adalah cara terbaik. "Oke deh Kak!" Raut mukanya kembali ceria.
"Siip, kita saling mendoakan yaa!" Andrea mengulurkan kelingking tangan kanannya. Dona menerima pinky-swear itu sambil tersenyum kecil.
Minuman keduanya sudah habis. Suasana di ruang tunggu pun mulai sepi. "Gimana kalau kita gantian jagain Aa? Kasian Ibu belum istirahat dari pagi," ajak Andrea. Dona mengangguk setuju. Keduanya membuang kaleng minuman masing-masing di tempat sampah yang tersedia dan kembali masuk ke ruang perawatan Angga.

No comments:
Post a Comment